Home kesehatan Pentingkah Social Distancing Saat ini?

Pentingkah Social Distancing Saat ini?

by Erin Nuzulia

Di tengah wabah virus corona ini, pemerintah pusat baik melalui juru bicara gugus tugas penanganan COVID-19 atau melalui pemerintah daerah secara kompak terus mengingatkan pentingnya social distancing. Imbauan demi imbauan diserukan, kebijakan yang jarang terjadi di Indonesia seperti work from home (WFH) pun dikumandangkan. Pemerintah percaya social distancing merupakan strategi ampuh demi mengatasi wabah. Akan tetapi, apakah Anda benar-benar mengerti arti social distancing? Dan, benarkah metode ini efektif?

Social distancing atau pembatasan publik merupakan strategi kesehatan di ruang publik yang direkomendasikan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) dengan menjaga jarak minimal dua meter guna mencegah penyebaran COVID-19 melalui droplet. Social distancing dicanangkan untuk mencegah, melacak, dan menghambat penyebaran virus corona.

Tidak hanya dengan menjaga jarak dengan mereka yang sakit saja, social distancing juga berarti tidak menghadiri pertemuan dengan jumlah massa yang banyak, seperti ibadah, sekolah, konferensi, festival, konser atau cara olahraga. Oleh sebab itu saat ini kita menemukan keadaan di mana tidak adanya liga champions, konser BTS, atau sekedar acara maulid nabi.

Lantas apakah metode social distancing ini benar-benar ampuh di kala wabah COVID-19?

Faktanya, negara dengan tingkat keamanan tertinggi terhadap pandemi ini seperti Singapura, Korea Selatan, dan Jepang, secara disiplin menerapkan strategi social distancing sejak awal masa pandemi. Meskipun kasus positif secara total terpantau tinggi, khususnya untuk Korea Selatan, berkat strategi ini pemerintah negara tersebut bisa menekan angka kematian dengan drastis sebagai bentuk “flatten the curve” atas suksesnya social distancing.

Sebaliknya, USA, Spanyol, dan Italia yang sejak awal terlalu meremehkan wabah ini, kini berada di deretan teratas dengan jumlah kematian di atas 10 ribu jiwa. Tetap digelarnya liga champion antara klub italia, Atalanta dan klub spanyol, Valencia di kendang Atalanta diyakini menjadi awal mula wabah ganas ini menghabisi Eropa.

Baca Juga:   Sebaiknya Jangan, Makanan Ibu Menyusui Ini Rentan Bikin Bayi Sakit!

Sebenarnya, social distancing bukan hal yang baru bagi planet bumi. Dahulu, ketika perang dunia pertama hampir berakhir, dunia pernah diteror virus flu jenis baru, yang menelan korban hingga 100 juta jiwa. Wabah tersebut adalah Flu Spanyol. Dan untuk pertama kalinya, strategi social distancing tercatat rapi dalam sejarah.

Pada tahun 1918, ketika pandemi Flu Spanyol tengah berlangsung, beberapa kota besar di Amerika masih abai terhadap ancaman pandemi ini. Seperti yang terjadi di kota Philadelphia. Meskipun saat itu 6000 tentara telah terkonfirmasi mengalami gejala flu, pemerintah kota tetap menjalankan parade untuk mempromosikan hasil obligasi mereka. Jalanan dipenuhi keramaian dan canda tawa, tanpa sedikit pun rasa takut menghantui.

Berbeda dengan kota Saint Louis di Missouri. Pemerintah kota tersebut memilih untuk membatalkan pawai dan memulai kebijakan untuk membatasi ruang gerak publik.

Satu bulan kemudian, lebih dari 10.000 jiwa dilaporkan meninggal di Philadelphia berbanding terbalik dengan data di Saint Louis dengan kurang dari 700 korban yang meninggal akibat pandemi Flu Spanyol.

Sejarah telah menunjukkan bahwa menjaga jarak dan membatasi pertemuan publik saat terjadi pandemi sangat lah penting guna menekan angka kematian akibat banyaknya kasus yang tidak tertangani oleh kapasitas medis.

Karena social distancing mencegah corona untuk tersebar secara luas, yuk sama-sama kita lawan corona dengan percaya diri sambil #DirumahAja !

Artikel Lainnya

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More