Yamaha RXZ, Si Pemberontak dari Era Puncak Kejayaan Yamaha RX

RXZ. Begitu kata kunci pencarian di Google. Padahal, jelas tertulis di bodi motor: RX-Z. Tapi biarlah, barangkali orang lebih suka mengetik Yamaha RXZ atau bahkan motor RXZ ketimbang mengikuti aturan yang benar jadi Yamaha RX-Z. Toh kita sudah sama-sama paham maksudnya.

RX-Z merupakan tunggangan yang turut memberi warna pada khazanah sepeda motor di Indonesia. Pasalnya, ia memberi warna baru pada nuansa balap keluarga besar RX yang pada masanya masih didominasi oleh gaya naked bike.

Youtube

 

Kakak Beradik Legendaris

Dekade 1980 bisa dibilang merupakan puncak kegemilangan riset teknik dan riset pasar Yamaha. Sebab, hanya pada dekade inilah RX punya tiga varian, yaitu RX-K, RX-S, dan RX-Z.

RX-K sebagai “motor sulung” punya kubikasi paling besar, yaitu 135 cc. Sebutan “king” yang disematkan masyarakat membuat Yamaha benar-benar membubuhkan kata “King” di sana. Jadilah, RX-King sebagai kuda jambret; motor paling ditakuti sekaligus paling bikin emosi di jalan.

Sementara itu, “si tengah” yang bernama RX-S kemudian memiliki kepanjangan nama jadi RX Special. Entah apa yang membuatnya spesial mengingat kapasitas mesin justru diturunkan menjadi 115 cc.

Ketimbang kata “Special”, kata “Small” sebetulnya lebih tepat disematkan mengingat kubikasi RX-S diperkecil dari Sang Kakak. Tapi pabrikan Yamaha punya pertimbangan lain. Mungkin kata “small” terlalu unyu, tak pantas disandang motor yang punya tarikan dan suara yang sama sadisnya (dan tetap bisa digunakan untuk menjambret, hehehe).

Terakhir, “si bontot” RX-Z adalah motor yang paling berbeda dengan kedua kakaknya. Bisa dibilang, dia adalah motor “paling rupawan” mengingat tampang balap begitu terlihat dalam tampilannya. Padahal, cc mesin juga bukan yang paling besar. Ketimbang mengikuti Sang Sulung, kubikasi mesin Si Bontot lebih suka mengekor kakak keduanya, RX-S.

Tapi, semua tentu sepakat bahwa RX-Z punya karakter sendiri. Kapasitas mesin memang lebih kecil dari RX-King, tetapi fakta tersebut tak lantas membuat RX-Z menciut. Sekali lagi, dia punya karakter!

 

Sang Penjelajah yang Memberontak

RX-Z bisa dibilang adalah keturunan RX yang paling bandel. Berontak. Dia beda sendiri, tak mau disamakan dengan para pendahulunya. Mau tahu cara paling gampang membedakan RX-Z dari serial RX lainnya?

Under cowl.

Keberadaan under cowl adalah elemen paling mudah dikenali dari RX-Z. Pada awal kemunculannya, RX-Z mungkin masih menganut pakem naked bike sebagaimana kakak-kakaknya dan moyang di keluarga RX-nya. Tetapi, sifat rebel itu sudah terlihat dari under cowl yang ada tepat di antara roda depan dan bagian mesinnya.

Bukalapak

Di keluarga RX, dia adalah yang pertama memakai under cowl. Tetapi, bukan itu saja yang menjadi tanda-tanda awal pemberontakannya.

Selain penggunaan under cowl, lampu sign bagian belakang yang menyatu dengan lampu rem jadi indikator “pemberontak” lainnya.

flickr

RX-Z adalah motor yang paling beda. Kalau RX-K masih kental dengan aliran naked bike, RX-Z punya tampang yang cenderung sport bike. Sementara itu, mesinnya mirip dengan RX-S, cukup 115 cc. Ya, RX-S memang satu-satunya pilihan buat mereka yang galau mau pilih RX-K atau RX-Z di masa itu.

Meskipun tak semeledak tenaga King, mesin RX-Z punya napas yang panjang. Cukup panjang untuk diajak bertualang; sesuatu yang tak bisa King lakukan. King memang sadis di dalam kota. Tapi untuk urusan jalan-jalan jauh alias touring, RX-Z adalah ahlinya. “Sang Penjelajah yang memberontak” sepertinya adalah julukan yang cocok diberikan pada RX-Z.

Rahasianya ada pada panjang langkah silinder. Bila panjang langkah silinder adalah RX-King 58 x 50 mm, maka ukuran RX-Z adalah 56 x 54 mm. Itu belum termasuk sistem transmisi kecepatannya yang 6 speed, beda dengan RX-King yang “cuma” 5 speed. Dengan begini, napas RX-Z bisa lebih panjang saat digeber.

Waktu terus berjalan. RX-Z yang beda sendiri terus membangun dinasti barunya, berusaha lepas dari “sejarah jambret” keluarga RX. Berturut-turut, turunannya lahir, mulai dari RZ-R hingga RZ-X. Masing-masing anak pun punya varian sendiri yang ditandai dengan kode angka. Namun yang jelas, semua keturunannya makin jauh dari keluarga RX.

Bukalapak

 

Arenapermotoran

Entah apa yang ada di pikiran para arsitek desain motor Yamaha saat itu. Apakah mereka ingin membuat RX-Z sebagai pengikis image buruk keluarga RX sebagai kuda jambret?

Cuma mereka yang tahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *